Bagian 1: Pencarian Pohon Arwah
“Grek.. grek..!” sebuah pohon besar tumbang.
Ia tak kuat menahan dirinya setelah layu dan mengering berbulan-bulan. Pohon besar itu seolah menjadi pertahanan terakhir di Negeri Sylvan. Setelah sebelumnya padi-padi mengering, pohon-pohon layu. Sylvan dilanda kekeringan panjang.
Asha memandang pohon besar tumbang dari kejauhan. Mata hijaunya berderak menahan tetesan air mata. Ia menarik napas panjang. Udara di Sylvan adalah napas dari kehidupan itu sendiri, namun kini terasa berat, seperti napas yang tertahan di paru-paru dunia. Aroma pinus dan lumut yang biasanya menenangkan, digantikan oleh bau tanah kering dan dedaunan yang layu.
”Apa yang terjadi?” bisik Asha lirih.
"Asha!" sebuah suara memanggilnya dari kejauhan.
Itu adalah Liora, sahabat terbaiknya. Liora muncul dari balik semak-semak, wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Kau sudah dengar? Mereka bilang para Penjaga tidak lagi bisa menghidupkan ladang. Para petani kelaparan," kata Liora,
Liora menjatuhkan keranjang yang dibawanya. Berisi buah-buahan keriput dan kecil-kecil. Jauh lebih kecil dari ukuran normal. Sangat kecil. Hanya itu yang bisa ia temukan.
“Sungai dan mata air, tidak lagi mengalir, hanya lumpur. Panen terakhir gagal. Kita sebentar lagi matiii!" Liora nyaris menjerit.
“Ya, aku tahu. Lihat, pohon terakhir sudah tumbang,” tunjuk Asha pada pohon besar.
Liora cemas, ”Lalu kita semua akan mati begitu saja?”
Asha mengusap ujung matanya, ”Seandainya Ibu masih hidup.”
Liora menepuk bahu sahabatnya, ”Kamu harus kuat. Kamu adalah Penjaga terakhir!”
Asha mendengus, ”Aku tak tahu lagi, apa yang harus kulakukan, Liora.”
Asha menekuk lututnya. Tangannya menyentuh tanah. Mencoba berkomunikasi dengan Bumi. Sejak beberapa bulan lalu, ada perubahan yang terasa. Denyut Jantung Bumi itu melemah, digantikan oleh getaran sakit yang menyayat. Getaran itu terasa panik, seperti detak jantung yang berpacu kencang karena ketakutan.
Sejak itu pohon-pohon kuno di sekitar desanya mulai layu, sungai-sungai kecil mengering, dan burung-burung langka tidak lagi berkicau.
”Asha, apa yang dikatakan Ibumu sebelum meninggal?” tanya Liora perlahan, khawatir Asha menjadi sedih. Tapi ini sudah darurat.
Asha memejamkan mata. Ya, Ibunya berpesan untuk mencari Pohon Arwah, di gurun Grun, perbatasan Sylvan dan Ironfall.
”Kukira itu mitos,” gumam Liora.
”Tidak. Pohon Arwah itu ada. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya,” jawab Asha.
Liora lalu menerobos masuk ke rumah Asha. Ia mengemas perbekalan untuk Asha.
“Ayo, kita berangkat, mumpung hari masih pagi!”
Asha mengangguk, semangatnya kembali bangkit. Sudah waktunya move on. Ia mengalahkan rasa kehilangan Ibunya. Ada hal lebih besar yang harus ia pikirkan: Keselamatan ummat manusia dari bencana kekeringan ini!
Asha berjalan di depan, langkahnya mantap. Tas kainnya yang digantung di bahu berisi beberapa botol air dan persediaan makanan yang sudah layu. Liora mengikutinya dari belakang, wajahnya dipenuhi butiran keringat dan matanya melirik ke segala arah.
Mereka telah berjalan selama berjam-jam, tetapi matahari tidak juga beranjak dari puncaknya. Tak ada kanopi pohon yang melindungi dari sengatan matahari. Sangat panas.
"Kita sudah jauh dari desa," bisik Liora, suaranya serak.
"Aku tidak pernah melihat gurun sebegini panas."
"Energi Jantung Bumi tidak lagi mendinginkan tanah," jawab Asha, tatapannya terfokus pada cakrawala yang bergetar karena panas.
"Ini hanyalah permulaan." Bisik Asha
“Hah? Permulaan dari apa? Apa selanjutnya?” Liora mendesis.
Tiba-tiba, suara gemerisik keras terdengar dari balik bukit pasir di sisi kiri mereka. Seekor Kadal Kristal muncul, kulitnya keras dan memancarkan cahaya kristal yang memantulkan panas gurun. Kadal itu memiliki ekor seperti cambuk yang berduri dan mata merah yang menakutkan.
***
Bisakah Asha mengatasi kegentingan ini?
Mau tahu lanjutannya? Yuk, komen.