Di atas, bulan mulai bersinar terang. Pada saat itulah bayangan gadis kecil muncul entah dari mana.
Fani mengangkat punggungnya ketika bayangan itu mulai membuka tariannya. Keinginan Fani yang meletup-letup membuatnya tanpa sadar berjalan mendekati gadis kecil itu. Dia berdiri di bawah bambu kuning pembatas halaman belakang rumah dengan pantai. Tanpa sadar, dia menirukan tariannya.
Penari cilik itu sepertinya tahu sedang diperhatikan. Tapi, dia tidak menghentikan tariannya. Dia justru mengulangnya berkali-kali, dari awal sampai akhir.
Seperti kemarin malam, gadis kecil itu tiba-tiba menghilang, bersama awan yang datang menutupi bulan. Fani celingukan sendiri. Kemana, ya, gumam harinya.
Dia melihat ke atas. Apa dia pergi ke bulan? Ah, memangnya dia peri, bisa terbang ke bulan? Atau masuk ke laut? Siluman kali. Ah, Fani memberanikan diri menuju tempat bayangan gadis cilik itu menari.
“Aneh,” bisiknya pada diri sendiri. “Kok, tidak ada bekas injakannya. Apa dia memang …”
“Neng!” panggil Bik Min mengagetkan, membuat jantung Fani hampir copot. “Sedang apa di situ?” Bin Min mendekat.
Fani menarik napas dalam-dalam, mengurangi keterkejutannya.
“Nggak sedang apa-apa, kok, Bik”
“Tapi, Bibi lihat Neng mencari-cari sesuatu,” Bik Min tidak percaya.
“Nggak! Benar, kok, Bik. Fani hanya ingin merasakan kaki Fani menginjak pasir malam hari.”
Bik Min tersenyum, “Kalau begitu sekarang tidur. Kan, sudah jam sembilan lewat.”
Digandengnya Fani masuk. Sebelum tidur, Fani menggosok gigi, mencuci tangan, dan mencuci kaki.
“Sudah, sekarang tidur. Jangan lupa berdo’a, ya,” pesan Bik Min sambil menutupi tubuh Fani dengan selimut.
***
(bersambung ke bagian #3)