Sepeninggal Bik Min, pikiran Fani melayang pada gadis kecil itu. Sampai matanya terpejam erat-erat. Dia bertemu dengan gadis kecil itu dalam mimpi. Dia belajar menari bersamanya. Gadis kecil itu bilang, kalau kita belajar sungguh-sungguh, pasti bisa menari, tarian sesulit apapun. Lalu, dia memberikan flashdisk berbentuk penari balet.
Esoknya, ketika Fani bangun, dia melihat flashdisk tergeletak di meja kecil dekat pembaringan.
“Aneh,” gumamnya lirih.
Diambilnya flashdisk tersebut, lalu diamatinya, flashdisk ini asli apa nggak, ya? Tanyanya dalam hati.
Untuk memastikan, dia membuka laptop, lalu memasukan flashdisk pada salah satu pot di sisi laptop. Flashdisk tersebut asli, isinya instrument untuk menari balet. Benar-benar aneh.
Fani menyalakan salah satu instrument lagu di deretan paling atas. Instrument lagu itu yang mengiringinya saat berlatih menari bersama gadis itu. Dia mengulang instrument itu berkali-kali sambil mencoba menarikan tarian yang dipelajari dari gadis cilik bayangan itu.
Walau pun belum sempurna, namun tarian yang dibawakan mirip dengan gadis cilik itu. Fani sampai heran sendiri. Padahal, selama berlatih di sanggar, dia hampir pasti berkali-kali melakukan kesalahan. Fani terus mengulang-ulang tariannya.
“Neng, sarapan dulu!” suara Bik Min menyadarkannya.
“Bentar, Bik. Fani mandi dulu,” teriaknya sambil menghentikan latihannya, lalu menghambur ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Esok malamnya, malamnya, dan malamnya lagi, Fani terus berusaha melihat bayangan penari cilik itu menari.
(bersambung #4)