Di sebuah desa terpencil di tengah hutan. Hiduplah seorang nenek tua bersama ayam kesayangannya. Mereka tinggal di dalam gubuk reot dengan dinding anyaman bambu yang rusak.
Ayam nenek berbulu emas. Nenek memberi makan ayamnya biji gandum terbaik, dan minum air kelapa segar. Nenek merawat ayamnya seperti merawat anaknya sendiri, meski ia tak memiliki anak.
Suatu hari, seorang raja tamak yang suka merampas barang milik rakyatnya bermimpi. Raja tamak bermimpi membuka buntalan kain. Buntalan itu berisi hidangan berbentuk usus berwarna coklat keemasan.
Raja bertanya kepada peramal apa arti mimpinya itu.
"Hidangan dalam mimpi Baginda Raja adalah kue yang terbuat dari usus ayam. Ayam itu berbulu emas. Dan hanya makan gandum dan minum air kelapa," jelas peramal.
"Hmmm, kue istimewa pasti berasal dari bahan yang istimewa pula," ucap raja.
Raja memerintahkan patih beserta bala tentaranya untuk mencari ayam itu.
"Cari ayam berbulu emas!" Perintah raja.
Mereka segera mencari ke seluruh pasar dan pelosok negeri. Berita itu terdengar hingga ke telinga nenek. Nenek ketakutan dan menyembunyikan ayamnya di bawah kolong kasur.
Naas, seorang mata-mata istana sudah terlanjur melihat ayam berbulu emas. Mata-mata segera menghadap raja untuk melaporkan temuannya.
"Ayam berbulu emas itu milik nenek tua dengan tongkat batang tebu. Nenek itu hidup di gubuk reot di tengah hutan," ucap mata-mata.
Raja tamak senang dengan apa yang didengarnya.
"Beri dia imbalan selembar sutra!" Perintah raja, "Cepat bawa ayam itu kemari!"
Patih beserta bala tentaranya berbondong-bondong menuju hutan untuk merampas ayam nenek. Mereka memasuki hutan untuk mencari gubuk reot nenek. Ketika sudah menemukan gubuk reot, mereka melompat turun dari atas kuda.
Patih menjelaskan maksud kedatangan mereka.
"Serahkan ayam berbulu emasmu! Ini perintah raja!" Ucap patih dengan suara keras.
"Tidak! Itu ayam kesayanganku. Dan hanya itu yang kupunya," tolak nenek tegas.
"Jika kau tidak memberikannya, maka gubukmu akan kami porak-porandakan!" Teriak patih.
Mereka mulai merobohkan gubuk reot nenek. Nenek menangis dan memohon kepada mereka untuk tidak merusak gubuknya.
Karena jumlah mereka yang banyak, nenek tidak mampu menghalangi mereka. Nenek mendapat ide.
"Aku akan memberikan ayam kesayanganku tapi dengan syarat," ujar nenek.
"Apa syarat itu?" Tanya patih.
"Akulah yang akan memasak usus ayam itu untuk raja," jawab nenek.
Patih kerajaan berpikir sejenak, lalu dia setuju.
Nenek menyuruh mereka untuk menunggu di luar gubuk. Nenek masuk dan membuat sesuatu.
Nenek mencampur bubuk gandum dengan telur dan air kelapa. Nenek mengaduk adonan menggunakan tongkat batang tebunya. Adonan dibuat menyerupai usus ayam.
Bau sedap muncul dari sela-sela gedhek bambu. Membuat siapapun yang menciumnya menjadi lapar.
Nenek membungkus masakannya dengan daun pisang. Lalu, nenek mencabut sehelai bulu ayamnya untuk dijadikan penyemat bungkus. Agar mereka mengira ayamnya benar-benar dimasak.
Nenek keluar dari gubuk membawa buntalan kain.
"Berikan ini kepada Baginda Raja. Ini adalah Kue Perut Ayam," ucap nenek.
Patih menerima buntalan kain. Lalu mereka semua menunggangi kuda bergegas kembali ke istana.
Nenek lega karena ayamnya telah selamat dari incaran raja tamak. Nenek berhasil menipu mereka.
Sesampainya di istana, patih memberikan buntalan kain kepada raja.
"Silakan Baginda Raja. Ini Kue Perut Ayam dari usus ayam berbulu emas," ucap patih.
Raja terkejut karena buntalan kain dihadapannya menyerupai buntalan yang ada dalam mimpinya. Segera raja membuka buntalan.
Sebuah bungkus daun pisang dengan semat bulu ayam emas terlihat dibalik buntalan. Raja membuka semat bulu ayam dan aroma sedap menguar. Aroma wangi dan gurih semerbak diseluruh ruangan, membuat raja tak sabar mencicipinya.
Raja mengambil sepotong.
"Wuaahhh, kue perut ayam ini sungguh lezat," puji raja.
Raja terheran-heran dengan rasa hidangan yang sangat enak itu. Kue itu sangat lezat hingga membuat raja makan dengan lahap. Seketika hidangan kue itu habis.
Raja senang karena telah makan usus ayam berbulu emas. Raja tidak tahu kalau dia telah ditipu.
Cerita ini ditulis untuk berpartisipasi dalam Lomba Menulis Cerita Anak SIP Publishing bersama Ali Muakhir : Menulis Dongeng dengan tema Kue Kesukaanku (tidak terbit).
