Di hutan yang rimbun. Para binatang hidup rukun. Mereka saling bantu dan hidup dengan tentram.
Sebentar lagi akan ada pesta rakyat. Tutu si tupai dan Momon si monyet sangat sibuk. Mereka membuat kerajinan tangan dari daun dan bunga. Hiasan pesta harus meriah dan cantik.
“Ayo Tutu, kita harus mengumpulkan bunga sebanyak-banyaknya. Bunga ini tak akan cukup untuk kalung yang kubuat,” ucap Momon pada Tutu.
“Ya, Momon, aku juga kehabisan daun. Ini tak akan cukup untuk wadah hidangan nanti,” jawab Tutu mulai gelisah.
Tutu dan Momon bergegas mencari daun dan bunga.
“Waahh! Bau harum ini pasti masakan Gempita,” ucap Momon sambil menarik napas dalam-dalam.
Mereka singgah ke rumah Gempita. Benar saja, Gempita si burung gagak sedang memasak.
“Hai Gempita. Kau juga sangat bersemangat untuk pesta? Bau masakanmu sangat sedap. Aku tak sabar untuk mencicipinya,” ucap Momon menahan liurnya.
“Ya, aku tak sabar menanti pesta rakyat kali ini. Pasti sangat seru,” jawab Gempita bersemangat, “sabar dulu Momon. Kau pasti akan kebagian masakanku.”
“Waahh. Aku jadi makin bersemangat,” ucap Tutu melompat senang.
Tutu dan Momon pun melanjutkan perjalanan mereka mencari daun dan bunga.
Tiba-tiba terdengar suara,
“HUAAAA!!!!”
Suara itu lagi. Tak lain dan tak bukan adalah suara Gori si gorila. Dia satu-satunya binatang hutan yang membuat resah. Badan besar, otot kekar, dan suaranya yang keras membuat Gori merasa dirinya paling kuat.
Gori suka berteriak ketika marah dan kesal. Suaranya membuat bayi binatang menangis ketakutan. Burung dan serangga terbang berhamburan setiap Gori berteriak.
Gori juga suka mengganggu binatang kecil dan lemah. Saat bertemu binatang kecil, Gori memukul tanah kuat-kuat. Membuat tanah bergetar dan binatang kecil terpental.
Tak hanya binatang kecil, tumbuhan pun diganggunya. Gori sering merusak daun dan bunga yang indah.
“Bagaimama ini Momon? Aku takut pesta akan dirusak oleh Gori,” ucap Tutu khawatir, “lihat. Daun dan bunga pun rusak oleh tangan usilnya. Kita akan kesulitan mengumpulkan bahan hiasan pesta.”
“Mari kita bicarakan ini dengan Gori,” ucap Momon sabar.
“Hei Gori! Kenapa kamu selalu menggangu? Kita kesulitan mencari bahan untuk hiasan pesta akibat ulahmu,” tegur Tutu pada Gori.
“Berani sekali kau memarahiku Tutu?” teriak Gori sambil meninju batang pohon. Pohon itu bergoyang kencang.
“Hentikan Gori. Kau membuat simpanan makanan musim dinginku jatuh. Lihat, kacang-kacangku berhamburan,” ucap Tutu sedih.
“Kau bisa cari lagi Tutu,” jawab Gori tak peduli.
Tutu mengumpulkan kacang-kacangnya dengan kesal. Tutu dan Momon segera melaporkan Gori pada Gempita. Gempita sangat sabar dan bijaksana. Nasihat Gempita selalu berhasil menyelesaikan masalah di hutan.
“Aku tidak butuh nasihatmu Gempita. Kau hanya iri dengan tubuhku yang besar dan kuat,” jawab Gori pada Gempita saat dinasihati.
“Ini tidak bisa dibiarkan,” gumam Momon. Momon sudah sangat kesal dengan tingkah laku Gori. Gori sangat keterlaluan.
Momon yang cerdik mendapatkan ide. Dia akan menaruh cermin besar di depan pintu rumah Gori. Momon melakukan aksinya di malam hari.
Keesokan harinya, di pagi hari saat Gori bangun tidur. Gori lapar dan hendak mencari makan. Gori membuka pintu rumahnya. Matanya mengerjap menahan kantuk.
Gori kaget melihat seekor gorila berada di depan pintu rumahnya. Seketika Gori menjadi marah.
“Berani sekali kamu menemuiku. Aku Gori si paling kuat. Siapa kamu?” Tunjuk Gori pada gorila dihadapannya.
Gorila itupun ikut menunjuk. Membuat Gori semakin marah.
“DASAR KURANG AJAAARRR!!!!!” Teriak Gori sambil memukul dadanya hingga berdentum keras.
Gorila di depannya tidak takut. Malah membuat gerakan yang sama. Tak sabar, Gori langsung menyeruduk gorila itu.
“PYAARRR!!!” Suara cermin pecah terdengar sangat keras.
“AAAAAHHHHHHH!!!” Gori berteriak kesakitan.
Cermin itu hancur dan menancap di tubuh Gori.
Momon yang diam-diam menguping menjadi lega mendengar teriakan Gori. Rasakan Gori. Kamu tidak akan pernah belajar kecuali dari cerminan dirimu sendiri.
Gori sakit hanya bisa diam dirumah. Tutu dan Momon berhasil mengumpulkan daun dan bunga. Pesta pun berhasil diadakan dengan meriah.
Pesan moral : “Kehidupan dapat diibaratkan seperti cermin, apa pun yang kamu perbuat setiap hari akan kembali padamu keesokan hari.”
Cerita ini ditulis untuk mengikuti lomba menulis fabel SIP Publishing bersama Watiek Ideo (tidak terbit).
