Kancil melemparkan sebuah topi lebar yang kusam ke atas rumput dengan geram. “Aku menyerah, Kura-kura. Aku sudah memakai topi bertuliskan ‘Pemikir Rimba’ ini selama seminggu, tapi kepalaku seperti mau pecah,” keluhnya sambil menatap pantulan dirinya di air sungai yang jernih.
Kura-kura muncul perlahan dari balik bebatuan, kepalanya menyembul tenang. “Kenapa kamu tampak kesal sekali, Kancil? Bukankah itu julukan yang kamu mimpikan selama ini?”
“Iya, tapi rasanya seperti dipaksa masuk ke kotak sempit,” jawab Kancil sambil menghela napas panjang. “Kalau aku tidak bisa melakukan tugas ‘Pemikir Rimba’ dengan sempurna, aku merasa gagal sebagai seekor kancil. Seolah-olah hidupku cuma ditentukan oleh julukan yang tertulis di topi ini.”
Kura-kura tersenyum tipis, riak air mengikuti gerakannya. “Kancil, kamu tahu tidak? Aku sering merenung, mungkin kita terlalu lelah karena mengejar jati diri yang bukan milik kita. Aku merasa jauh lebih tenang saat fokus pada apa yang bisa aku berikan untuk hutan ini, bukan pada julukan apa yang kusandang. Ternyata, kalau kita fokus pada manfaat yang kita bawa, rasanya akan lebih puas setiap melakukan hal apapun, dan kita tidak akan gampang sedih saat keadaan berubah.”
“Tapi dunia ini berubah cepat sekali, Kura-kura,” potong Kancil gelisah. “Bagaimana kalau besok julukan ‘Pemikir Rimba’ itu sudah tidak ada lagi? Julukan apa lagi yang bisa kusandang?”
“Itulah rahasianya,” bisik Kura-kura. “Jangan biarkan dirimu kaku. Aku sadar bahwa memiliki pikiran yang terbuka untuk terus belajar hal baru itu jauh lebih bermanfaat untuk diri kita, daripada cuma mengandalkan satu keahlian yang itu-itu saja hanya karena ada julukan di samping nama kita. Cita-cita dan impian itu harusnya soal arah perjalanan hidup kita serta apa yang sebenarnya kita inginkan, bukan tentang satu julukan yang membuatmu berhenti berkembang saat sudah berhasil menyandangnya.”
Kancil terdiam, memandangi topi kusam itu. “Jadi, aku tidak harus dijuluki ‘Pemikir Rimba’ untuk merasa berharga?”
“Benar sekali,” sahut Kura-kura mantap. “Mengejar julukan hebat cuma buat pamer itu melelahkan sekali, Kancil. Itu cuma menguras tenagamu. Kebahagiaan sejati biasanya baru datang kalau apa yang kita lakukan sehari-hari itu jujur dan selaras dengan hati kita sendiri, apa pun perannya. Tidak masalah kalau kamu belum punya julukan hebat untuk dipamerkan ke seluruh penghuni hutan. Fokus saja pada jati dirimu yang paling tulus.”
Kancil mulai tersenyum, beban di pundaknya seolah terangkat. “Benar juga. Hidup kita ini bukan sekadar perjanjian atau pengakuan di atas daun jati. Kita jauh lebih berharga daripada julukan yang menempel di samping nama kita.”
“Tepat sekali,” jawab Kura-kura. “Bebaskan cita-cita dan impianmu dari julukan yang membosankan itu. Fokuslah pada dampak yang bisa kamu buat, walaupun kecil, jadilah lebih bermanfaat untuk penghuni hutan lain. Itulah yang akan membuat kita tersenyum saat menatap diri kita di masa tua nanti.”
Kancil menendang topi itu ke aliran sungai. Ia melihatnya hanyut, lalu menarik napas lega. “Terima kasih, Kura-kura. Ternyata, berhenti jadi ‘sesuatu’ justru membuatku merasa menjadi ‘segalanya’.”
