Di Negeri Pelangi Awan, semua makhluk hidup damai, lembut, dan penuh warna.
Kecuali... Roru.
Roru adalah kelinci hujan-bulu putih lembut, telinga panjang, tapi ekornya selalu membawa titik-titik air. Setiap kali Roru merasa sesuatu terlalu kuat, hujan turun dari ekornya.
Kalau Roru senang- gerimis wangi.
Kalau Roru sedih- hujan deras.
Kalau Roru marah- hujan badai kecil.
Kalau Roru takut- embun dingin.
Teman-temannya sayang pada Roru, tapi,,, mereka kadang bingung menghadapi emosinya.
Pagi itu, di lapangan awan, Mimi si kucing bersayap ingin mengajak bermain petak umpet.
"Mimi mau main! Ollo mau main! Pipit juga mau! Roru, kamu ikut?" tanya Mimi.
Roru sebenarnya ingin sekali ikut, tapi ia baru bangun dan telinganya masih kusut.
"Hmm... Roru bingung... Roru... Roru mau... tapi takut kalah," gumamnya.
Embun kecil jatuh dari ujung ekornya.
Mimi tertawa kecil. "Nggak apa-apa kalah. Namanya juga main!"
Tapi sebelum Roru menjawab, Pipit terbang rendah dan -duk!-secara tidak sengaja menabrak telinga Roru.
"Aduh! Aduh! Aduh!" Telinganya bergetar. Matanya melebar.
Dan... HJJJJRRTTT!
Awan di bawahnya langsung gelap. Hujan badai kecil turun tepat di kepala teman-temannya.
"Aaaa! Roru marah lagi!" Mimi menutupi kepala.
"Aduh dingin!" Ollo menggembung cepat agar tidak ikut basah."
Roru terkejut melihat semua basah.
"Maaf! Maaf! Roru nggak sengaja! Roru cuma... kaget!"
Tapi semakin panik Roru, semakin deras hujan turun.
Peri Kaya akhirnya datang dengan kilau warna di sayapnya
"Roru, sini dulu." katanya lembut.
Ia membawa Roru ke batu kecil dari cahaya pelangi. Hujan badai berhenti perlahan.
Kaya tidak memarahi. Ia hanya duduk di samping Roru yang menunduk sedih.
"Roru... kamu tahu nggak? Semua orang boleh punya emosi. Tapi kamu perlu belajar mengatur kapan hujanmu turun."
"Tapi... tapi Roru nggak tahu cara menghentikan hujan." Roru mengusap hidungnya. Embun sedih turun lagi.
Kaya tersenyum, "Bukan menghentikan, tapi menenangkan."
Ia mengangkat telunjuknya.
"Kau mau coba satu hal?"
Roru mengangguk ragu.
"Baik. Setiap kali perasaanmu terlalu besar, lakukan ini:
Tarik napas... tahan... hembuskan...
lalu hitung pelangi: merah... jingga... kuning... hijau... biru... nila... ungu. Sampai badanmu tenang."
Roru mencoba.
Tarik napas-hembus.
"Merah... jingga... kuning."
Perlahan, butiran hujan dari ekornya berhenti jatuh.
"Aku... bisa?" Roru memegang ekornya sendiri dengan tak percaya.
"Kamu hebat!" Kaya tersenyum. "Emosi itu bukan musuh. Dia temanmu. Tapi teman juga butuh diajak bicara."
Roru merasa hangat. Untuk pertama kalunya, ia merasa bisa mengendalikan hujan di badannya.
Setelah tenang, Roru kembali ke lapangan awan untuk meminta maaf.
"Mimi, Pipit, Ollo,... maaf, ya. Roru tidak bermaksud marahin kalian."
Mimi tersenyum lebar dan terbang mengelilingi Roru.
"Tidak apa-apa! Ayo main lagi!"
Pipit mengangguk sambil memegang sayapnya. "Aku juga minta maaf nabrak telingamu."
Ollo mendekat perlahan dan berkata, "Kalau kamu tambah takut atau marah, bilang ke kami. Kami mau bantu."
Roru terharu.
Ekornya berbinar-dan kali inii turun gerimis manis berwarna perak, tanda Roru sedang sangat bahagia.
Sore itu, mereka bermain petak umpet. Roru memang kalah dua kali... terkejut sekali... dan sempat hampir marah karena Ollo bersembunyi terlalu baik.
Tapi sebelum hujan badai turun, Roru menarik napas panjang dan menghitung pelangi pelan-pelan.
Dan... hujannya tidak turun.
"Roru berhasil!!!"
Semua teman bersorak.
Di langit, pelangi tipis muncul-bentuknya melengkung seperti senyum.
Pada hari itu, Roru belajar sesuatu :
Perasaan boleh besar, tapi Roru lebih besar dari perasaannya.
**
