Di Negeri Pelangi Awan, semua makhluk bisa terbang. Ada yang memakai sayap, ada yang memakai sihir, ada juga yang melayang begitu saja.
Tapi hanya satu yang terbang terlalu tinggi.
Namanya Mimi.
Seekor kucing putih mungil dengan sayap biru muda yang selalu berkilau. Ia sangat suka terbang, melompat dari satu awan ke awan lainnya, memutar di udara bahkan salto!
Tapi Mimi punya satu masalah besar.
Ia tidak bisa mendarat.
Setiap kali sudah waktunya turun, Mimi selalu panik.
"Aaaaaa! Bagaimana caranya berhenti?"
"Turunnya gimana ini? Siapa pencet tombol terjun?"
Warna langit hanya bisa menatap Mimi yang berputar-putar seperti balon lepas dari tali, sebelum akhirnya-boing!-menubruk tumpukan awan empuk.
Semua tertawa, tapi Mimi tidak.
"Aku capek terbang mulu... kenapa aku nggak bisa turun dengan normal?" rengek Mimi sambil mengusap kepalanya yang pusing.
Suatu pagi, Mimi duduk di ujung pelangi awan sambil merajuk. Ia tidak mau terbang lagi.
Datanglah Pipit, burung mungil sahabatnya, membawa setangkai bunga awan.
"Mimi, kamu kok muram begitu?"
"Aku pengen terbang... tapi aku takut mendarat. Selalu berantakan," Mimi mengeluh panjang.
Pipit duduk di sampingnya. "Lho, kalau begitu kamu tinggal latihan mendarat dong."
Mimi cemberut. "Latihan itu menakutkan."
"Justru karena menakutkan. kita jadi perlu latihan."
Mimi terdiam. Pipit benar juga.
Akhirnya Pipit menarik tangannya. "Ayo, aku ajari pelan-pelan."
Mereka terbang ke lapangan awan-tempat paling aman di seluruh negeri. Jika jatuh pun, rasanya cuma seperti masuk ke tumpukan kapas raksasa.
Pipit berdiri gagah.
"Baik, pelajaran pertama. Cara mendarat itu sederhana. Luruskan sayapmu, tahan angin, dan turunknn kaki perlahan."
Mimi mencoba.
Ia terbang pelan-pelan... turun sedikit... sudah hampir... hampir...
BRUGH!
Ia masuk ke dalam tumpukan awan besar sampai hanya ujung ekornya yang terlihat.
Pipit menahan tawa. "Tidak apa-apa! Ulang lagi!"
Percobaan kedua, Mimi muter-muter.
Percobaan ketiga, ia hampir menabrak pohon awan.
Percobaan keempat, ia mendarat dengan kepala duluan.
Sampai akhirnya Mimi terduduk.
"Aku nggak bisa, Pipit. Terbang itu mudah, tapi turun itu susah."
Pipit menggeleng lembut.
"Mimi, semua yang hebat pasti butuh waktu. Kamu hanya lihat kejatuhanmu... tapi aku lihat keberanianmu."
Mimi menatap Pipit. "Keberanian?"
"Ya! Kamu jatuh berkali-kali tapi tetap mencoba lagi. Itulah keberanian yang sesungguhnya."
Mimi terdiam lama. Lalu ia bangkit.
"Oke. Satu kali lagi! Tapi kalau gagal, aku mau tidur di sini seharian."
Pipit tertawa. "Deal!"
Mimi mengepak sayap. Ia terbang pelan. Tidak tinggi-cukup untuk latihan. Ia mengingat semua instruksi Pipit.
Luruskan sayap...
Tahan angin...
Turunkan kaki...
Jangan panik...
Jangan menyerah...
Dan untuk pertama kalinya...
Tap.
Dua kaki mungilnya menyentuh awan lembut dengan sempurna.
Pipit memekik. "BERHASIL!!!"
Seluruh awan-awan yang menonton bersorak.
Mimi terpaku.
"M-mendarat? Aku mendarat? Beneran mendarat?"
Ia melompat kegirangan sambil mengepak sayap.
"Aku bisa! Pipit! Aku bisaaaa!"
Pipit mendekat dan memeluknya.
"Aku bangga banget sama kamu!"
Sejak hari itu, Mimi tidak takut lagi terbang tinggi. Karena ia tahu, mendarat pun bukan lagi hal yang menakutkan.
Dan jika suatu hari kamu melihat awan bergerak lucu seperti kucing yang menari-nari, mungkin itu Mimi-latihan gaya mendarat baru.
Karena setiap proses, tidak ada yang langsung hebat. Yang penting bukan seberapa sering jatuh, tetapi seberapa berani kita mencoba lagi.
**
