Popo Si Penjaja Senyum
Ditulis oleh Suria Tresna
Bayangkan jika semua makhluk di dunia ini lupa cara tersenyum. Kecuali kamu. Pasti tidak enak rasanya, bukan? Hal itulah yang membuat Popo, si burung tempoa, berusaha membuka bola matanya. Walaupun masih sangat mengantuk, ia tidak bisa membayangkan teman-temannya di bawah sana akan menjalani hari tanpa senyuman.
"Huft... semoga hewan-hewan belum berangkat melakukan aktivitasnya masing-masing," gumamnya dalam hati.
Apa jadinya kalau Bela si bebek pergi mencari makan tanpa sebuah senyuman sepanjang hari? Atau, bukankah semua hewan akan semakin takut bertemu Bobi si babi jika pagi ini ia berkeliling hutan tanpa sedikit pun senyum di bibirnya?
Popo melongok keluar sarang dengan riang. Senyum-senyum yang sudah dianyamnya semalam dimasukkan ke dalam keranjang yang kemudian disampirkan di bahunya. Popo terbang menukik. Ia menuju liang Tosi si tikus tanah di dekat akar pohon kelapa tempat Popo tinggal.
Namun, Popo terkejut! Ia melihat tanah yang retak-retak. Banyak pohon kecil tercerabut. Popo tidak melihat Tosi.
“Tosi... Tosi...? Kamu di mana? Apa kamu baik-baik saja?”
Tiba-tiba, Popo mendengar suara sangat pelan...
“Popo... apa itu kau...?”
Mata Popo berbinar. Ia mengenali suara itu!
“Aku di sini, Popo! Terjebak dalam liang ini. Aku tidak bisa keluar...”
“Apa yang terjadi, Tosi? Kenapa semua terlihat rusak begini?”
“Oh... tentu saja kau tidak merasakannya, Popo! Kau pasti hanya berayun di dalam sarangmu di atas sana. Semalam terjadi gempa yang sangat dahsyat. Aku sedang tidur dan tidak sempat keluar dari sarang. Untung saja dinding-dinding sarangku cukup kokoh, jadi tidak runtuh dan menimbunku. Tapi sepertinya jalan keluar tertutup batu besar. Sudah sejak tadi aku berusaha menggali, tapi tidak bisa.”
Popo menjadi sedih dan bingung mendengar rintihan Tosi.
“Aku akan kembali, Tosi! Tunggu aku ya! Aku janji akan membawa bantuan!” Popo terbang meninggalkan liang Tosi dengan hati penuh harap.
Dengan keranjang senyum masih tergantung di bahunya, Popo menukik ke arah hutan. Popo terkejut melihat keadaan sekitarnya. Ranting-ranting patah berserakan, daun-daun kering menutupi jalan setapak, dan beberapa pohon kecil tumbang menimpa semak belukar. Gempa semalam ternyata juga berdampak kepada hewan-hewan lain.
Semua tampak murung dan lesu. Popo mulai menjajakan senyum-senyum itu kepada hewan-hewan yang ditemuinya. Namun, tidak ada satu pun yang menerima.
“Aku kehilangan semua telurku, Popo,” kata Bela. “Maaf, aku tidak bisa tersenyum.”
“Senyum tidak bisa membangun kembali rumahku,” keluh Kiki si kelinci.
“Aku lebih butuh makanan daripada senyuman,” gerutu Bobi.
Popo mulai kelelahan. Ia terbang dari satu sudut hutan ke sudut lainnya, tapi semua menolak senyum-senyumnya. Ia kemudian duduk di dahan yang roboh, menatap keranjangnya yang masih penuh.
“Apakah senyum sudah tidak dibutuhkan di dunia ini?” bisiknya pilu.
Namun tanpa disadari, para hewan memperhatikannya. Mereka melihat Popo tetap berusaha membagikan senyum meski tidak ada yang menerima. Popo bahkan lupa tersenyum untuk dirinya sendiri.
Bela akhirnya berkata pelan, “Mungkin... kita memang butuh senyum untuk bisa bangkit lagi.”
Kiki si kelinci berdiri. “Popo, aku ingin senyummu. Boleh?”
Popo menoleh. Ia melihat Kiki menatapnya. “Aku pikir... mungkin kita memang butuh tersenyum dulu... agar punya tenaga untuk membangun kembali sarang-sarang kita.”
Popo tertegun. Matanya membulat. Lalu, perlahan, ia tersenyum, dan mengulurkan senyum kecil berbentuk bunga kepada Kiki.
Kiki kembali tersenyum dan menepuk Popo pelan.
“Terima kasih, Popo. Senyum ini memberiku harapan.”
Kemudian, satu per satu hewan muncul dari balik semak dan reruntuhan.
“Aku juga, Popo! Berikan aku satu senyum juga,” kata Bobi.
Popo Kembali bersemangat. Ia mengambil senyum-senyum dalam keranjangnya dan membagikannya satu per satu. Kali ini, tidak ada yang menolak.
Hutan kembali ramai oleh tawa kecil, suara semangat, dan senyum-senyum yang merekah dari hewan-hewan itu. Mereka saling bahu membersihkan reruntuhan.
Kemudian, hewan-hewan itu bersama-sama menuju ke liang Tosi untuk membantunya. Batu yang menutupi liang Tosi itu perlahan bergeser.
Dari balik kegelapan, suara lemah Tosi terdengar, “Terima kasih teman-teman... kalian datang tepat waktu…”
Popo berdiri, keranjang senyumnya kini kosong—tapi ia merasa bahagia karena kini semua teman-temannya kembali tersenyum dengan riang. Ia kemudian kembali ke sarangnya yang berayun di dahan pohon kelapa.[]