Gampi Si Hitam Manis
Oleh: Suria Tresna
16/8/2025
“Uh... sedikit lagi... uh!” Gampi berusaha sekuat tenaga memanjat sebuah stoples kaca. Ia meraba-raba di dalam kegelapan.
Akhirnya, Gampi bisa bernapas lega. Kue galamai kampi kecil itu langsung meringkuk di sudut, di antara kue-kue nastar yang sudah tertidur lelap. Ia merasa sangat lelah. Sejak tadi ia berjuang untuk bisa sampai di tempat yang paling diinginkannya ini.
***
Suasana pagi mendadak hiruk pikuk karena teriakan-teriakan yang sangat keras.
“Aaa... pergi sana! Pergi! Jauh-jauh dariku!” Sebuah kue nastar kecil yang sangat cantik terkejut saat mendapati Gampi sedang tertidur lelap di dekatnya.
Gampi terkejut dan langsung bangun. Ia segera menjauh dari kue-kue nastar itu.
“Kamu ngapain di sini, kue galamai? Tempatmu di dalam kampi itu! Bukan di stoples cantik seperti kami!” seru Tara si kue nastar marah.
“Iya, kalau kau di sini, kau bisa menodai kami dengan kulitmu yang hitam. Kami tidak akan mulus lagi!” sambung yang lain.
“Usir dia!” jawab nastar-nastar lainnya dengan kesal.
Gampi kemudian berjalan lunglai! Ia mulai memanjat kembali stoples kaca itu dengan susah payah. Tidak ada yang mau membantunya. Mereka takut kulit Gampi akan menempel di tubuh mereka.
“Maafkan aku tidak bisa membantumu memanjat, Gampi. Aku takut kalau kulitku hitam, nanti aku akan di buang!” ujar Nana, si kue nastar yang ikut sedih melihat Gampi.
“Tidak apa-apa, Nana. Aku akan berusaha kembali ke kampi pandan itu. Tempatku yang seharusnya,” ujar Gampi sambil terus menunduk.
“Gampi... kau ke mana saja? Untung kau cepat kembali! Kami sibuk mencarimu!” May teman Gampi langsung menyambut saat Gampi akhirnya tiba.
“Aku letih sekali, May! Aku akan menceritakannya nanti,” sahut Gampi lirih.
Gampi mengintip dari sela-sela kampi tempatnya kini berada. Ia menatap sedih nastar-nastar yang sedang bercengkerama gembira di dalam stoples kaca. Kapan ya kita akan disimpan juga dalam wadah cantik seperti itu? Sepertinya nasib galamai kampi tidak akan pernah berubah....
“Hei, kau pasti belum mendengar kabar terbaru!” seru May sambil menghampiri.
“Kabar apa, sih? Kau mengejutkanku saja, May!”
“Tadi kami mendengar bahwa nanti malam kita akan dikirim ke luar negeri, Gampi! Jerman! Tina, anak Ibu yang bekerja di sana, sangat merindukan kue galamai kampi buatan Ibu. Kita semua akan terbang, Gampi!” May bersorak riang.
“Wah, apa kau tidak salah dengar, May? Mengapa kita? Mengapa bukan nastar-nastar yang cantik itu?” ujar Gampi tidak percaya.
“Kau lihat saja nanti, kita akan segera dibungkus rapi dan kurir akan menjemput!” jawab May yakin.
“Aku masih tidak percaya! Pasti nastar yang akan di bawa! Lihatlah mereka berada di stoples yang cantik dan di letakkan di meja ruang tamu! Sementara kita, hanya terkurung di dalam kampi ini!” Gampi kembali lesu sambil menatap nastar-nastar di meja seberang.
“Itulah alasan utama kenapa kita yang dikirim, Gampi! Tahukah kamu, daun pandan yang dianyam untuk membuat kampi yang membungkus kita inilah yang membuat kita menjadi istimewa. Aroma kita menjadi khas, dan membuat kita juga menjadi lebih tahan jika disimpan dalam waktu yang lama.
“Dan satu lagi... Di mana-mana ada nastar, Gampi! Semua orang bisa membuat atau membelinya di toko-toko kue di mana saja. Di Jerman ada nastar, di Indonesia pun ada nastar! Tapi, galamai kampi seperti kita? Tidak semua orang bisa membuatnya!” May menjelaskan dengan bersemangat.
Benar saja, tidak lama kemudian, Ibu mulai sibuk membungkus galamai-galamai kampi itu.
Brrr... Roar...!
“Wah, kamu benar May... sepertinya kita sudah berada di dalam pesawat terbang! Kita akan berangkat ke Jerman, May!” Gampi bersorak riang.
Yey ... Gampi dan May akhirnya terbang ke Jerman. Gampi merasa sangat bersyukur menjadi galamai kampi yang hitam manis.
Glosarium :
Galamai kampi : Kue khas dari Sumatra Barat ini terbuat dari olahan tepung beras, santan dan gula enau yang di aduk-aduk di atas tungku api sampai menjadi kenyal. Galamai kampi ini mirip dengan dodol, namun istimewanya karena dibungkus dengan kampi atau kantong yang terbuat dari anyaman daun pandan.