Bulan depan, sekolahku akan mengikuti berbagai macam lomba. Lomba antar SD tingkat kabupaten untuk kelas IV sampai kelas VI.Cabang yang akan dilombakan diantaranya kaligrafi, qosidah juga tahfiz Al-Qur’an. Seleksi peserta lomba di sekolah dilakukan dengan ketat. Setiap siswa yang ditunjuk untuk mewakili sekolah unjuk kebolehan di lapangan memakai microfon.
Wuih..., belum apa-apa jantungku sudah dag dig dug. Bagaimana tidak, aku dipilih mewakili kelas IV untuk ikut lomba tahfiz Al-Qur’an. Padahal aku belum punya pengalaman.
Setelah beberapa temanku maju, namaku dipanggil. “Rahmatullah Raafi Ismail...,” kata Bu Dian. Deg...! Jantungku semakin cepat berdegup. Kulangkahkan kaki menuju lapangan. Waktu itu jam istirahat, sehingga hampir semua siswa memandang padaku. Aiih..., itu cuma aku saja yang ke ge-eran, pikirku.
Bismillah...kuucapkan dalam hati. Kupegang microfon, sedikit bergetar. Mungkin teman-temanpun melihatnya. Kucoba menenangkan diri. Kutarik nafas dalam-dalam. Mulailah aku membacakan surat al-Ala.
Awalnya suaraku terdengan bergetar, namun selanjutnya suaraku keluar dengan lantang. Guru-guru yang sedang berada di kantorpun keluar. Mungkin penasaran mencari dari mulut siapa suara itu berasal. Aku baru tahu hal itu dari Andri, setelah aku selesai membacakan surat al-Ala. Karena sengaja mataku kupejamkan saat membacakannya.
Dalam beberapa hari, ditetapkanlah siapa saja yang akan dipilih untuk mewakili sekolah. Namaku termasuk didalamnya. Mataku berbinar, kutarik mulutku lebar-lebar, ada senyum di wajahku. Tapi juga, ada perasaan takut dan malu.
Hari yang ditunggu telah datang. Hari yang sangat menegangkan! Semalam aku tidak tidur nyenyak. Dan pagi ini tiba-tiba saja aku sering ingin pergi ke kamar mandi.
“Rofi, Ibu tahu kamu gugup. Wajar kok, hanya sebentar...lama-lama kalaukamu sudah naik panggung semua akan hilang,” ucap Ibu sambil mengusap bahu,seperti menjawab kekhawatiranku.
“Saatnya kamu membuktikan kalau kamu berani! Itu saja dulu, menang atau kalah bukan masalah, yang penting kamu berusaha sebaik mungkin, ya...”lanjut Ibu sambil melepaskan pelukan.
Tiba di tempat lomba, aku mendapat urutan pertama. Wuih...lagi-lagi aku gugup. Aku mencoba menenangkan diri. Aku ingat-ingat wajah ibu, kata-kata ibu yang tadi memberiku kekuatan dan keberanian.
Aku kini berada di panggung. Aku membaca surat wajib yaitu surat al-Ala, lalu menunggu lima pertanyaan dari juri. Ada yang menanyakan kelanjutan ayat dan ada yang menyuruh membacakan urutan ayat. Alhamdulillah hanya satu saja pertanyaan yang benar-benar tidak bisa saya jawab.
Aku senang melihat penampilan peserta-peserta berikutnya, terutama yang berhasil menjawab semua pertanyaan juri dan mengalunkan ayat Al-Qur’an dengan indah.
Perlombaan akhirnya selesai juga.Sore harinya diumumkan siapa pemenangnya. Dan aku, aku kaget namaku juga disebut! Bukan juara 1, bukan juara 2 juga bukan juara 3, tapi aku termasuk juara harapan 1. Aku berjingkrak, tak henti-henti mengucap syukur.
“Ah, kalau bukan karena teman-teman yang memilihku, kalau bukan karena guru-guru sekolah melatih dan mendukungku, kalau bukan semangat dari Ibu dan juga kalau bukan karena pertolongan Allah SWT, maka aku tidak akan berdiri didepan sini. Terimakasih untuk semua.” Aku mengangkat pialanya. “Kemenangan ini untuk kita semua,” lanjutku lebih keras, mengakhiri upacara hari Senin di lapangan sekolah.***
(Dimuat majalah Aku Anak Sholeh edisi Agustus-September 2014)
