Mahkota Ajaib Raja Ballan
Oleh: Mutiara Effendi
22/1/2026
Sudah seminggu aku bertugas di luar kedaton. Raja Ballan selalu memakaiku saat bepergian. Bukannya tak suka pada pekerjaanku, tapi aku lelah berpanas-panasan.
Aku tinggal di ruang mahkota. Sebagai permata pusaka, aku dan teman-temanku memiliki tugas masing-masing. Kami berdelapan, sesuai bentuk kedaton yang bersegi delapan. Sebagai mahkota safir, tugasku menemani raja mengontrol situasi di luar gerbang kedaton.
Aku beruntung tinggal di Negeri Rempah yang makmur. Hanya saja, di antara semua batu permata, aku merasa akulah yang paling lelah. Tugasku berat karena harus menemani raja dalam semua cuaca.
Diam-diam aku iri pada mahkota zamrud. Dia selalu santai di dalam kedaton. Aku sering bermimpi untuk bertukar peran dengannya.
Aku melihat pelayan masuk kamar. Tampaknya dia ingin mengambilku kembali. Ah, baru juga mau istirahat, masa sudah harus pergi lagi?
Mendadak aku punya ide. Cepat-cepat kuredupkan sinarku. Iya, aku punya kekuatan untuk menahan kilauku saat kuinginkan. Permukaan biru safirku yang tadinya gemerlap, mendadak suram.
Pelayan terkejut. Ia melapor pada raja. Akhirnya diputuskan bahwa raja akan mengenakan mahkota zamrud untuk sementara. Sedangkan aku, dijadwalkan untuk dipoles.
Amboi, senangnya! Akhirnya aku bisa bersantai di dalam kedaton. Setelah raja pergi, pelayan membawaku ke balkon dengan perlengkapan polesnya.
“Sat... Set...,” pelayan memolesku penuh semangat.
Namun, dia tampak kebingungan karena tak ada hasil.
Dia pun menyerah. Sembari mencari alat poles lain, ia meminta anaknya menjagaku.
“Aku Obi. Kamu bagus, tapi sayang... bukan mahkota zamrud,” ujarnya kecewa. “Aku ingin sekali melihat mahkota zamrud dari dekat. Aku suka warnanya, mirip hutan rempah. Aku senang main di sana.”
Wah, berani sekali dia padaku! Kumainkan kilauku untuk menakut-nakutinya.
Bukannya kabur, dia malah gembira. “Nah, itu kamu bisa bercahaya, kok katanya buram?” Dia melanjutkan, “Mau kubawa ke hutan rempah? Siapa tau kilaumu semakin jelas karena di sana gelap.”
Hmm, tawarannya menarik. Aku belum pernah ke hutan rempah. Dulu aku pernah ingin bersembunyi di sana agar tak jadi dibawa ke luar. Tapi, impian itu tak pernah tercapai.
Mungkin sekarang waktunya. Kumainkan kembali kilauku sebagai tanda persetujuan.
Ah, dia mengerti! Obi membawaku ke hutan dengan sembunyi-sembunyi. Begitu masuk, langsung tercium aroma manis kue dari batang-batang kayu tinggi. Kami terus masuk melewati pepohonan rimbun yang wanginya seperti masakan berkuah para koki. Nikmat sekali. Kegembiraanku tak bisa kubendung sehingga kilau permataku memantul-mantul di sepanjang hutan.
“Duarrr!!!” tiba-tiba terdengar suara gemuruh.
Obi membawaku berlari ke luar hutan. Dia menunjuk sesuatu di kejauhan.
“Gunung Ama meletus!” teriak prajurit penjaga.
Seisi kedaton gempar. Orang-orang berlarian ke lapangan seperti tak percaya. Sudah ratusan tahun Gunung Ama tertidur. Tapi, kini... berselimut lava merah menyala.
Baru saja aku dan Obi kembali ke balkon, terdengar pekikan lain,
“Semua tanaman di hutan rempah mati!”
Aku dapat merasakan Obi gemetaran. Kami baru saja dari sana, tadi semua baik-baik saja. Apa yang terjadi?
“Bagaimana ini, kami tak punya bahan masakan!” seru para dayang cemas.
“Besok hari dagang dengan negeri tetangga. Bila tak ada hasil panen, kerajaan akan merugi,” timpal yang lain.
Semua orang kebingungan. Bencana ganda seperti ini belum pernah terjadi. Apalagi raja masih belum pulang karena sibuk memberikan pertolongan pada rakyat yang harus mengungsi.
Seorang tetua kepercayaan raja mendekatiku, “Apa yang terjadi dengan mahkota safir ini?”
“Aku sudah memolesnya sedemikian rupa, tapi kilaunya tak jua kembali,” keluh pelayan.
“Ambilkan mahkota zamrud,” ujarnya lagi.
“Dibawa Paduka keluar kedaton,” jawab pelayan.
“Astaga! Ini penyebabnya!” dia ketakutan. “Negeri ini ditopang oleh kekuatan batu permata pusaka. Safir menahan gejolak, harusnya dibawa saat mengontrol alam. Zamrud menumbuhkan, harus selalu berada di sekitar hutan rempah. Bila terbalik, akan timbul bencana.”
Aku terkesiap. Jadi... semua kekacauan ini gara-gara aku?
Malu-malu aku menghidupkan lagi kilau permataku. Kubiarkan kemilaunya berpendar jauh agar tampak seperti memberi petunjuk arah.
Tetua menangkap sinyal itu. Ia mengutus seorang prajurit untuk mengantarku pada raja dan membawa mahkota zamrud pulang.
Saat bertengger di kepala Raja Ballan di depan Gunung Ama, kurasakan energiku bertambah berkali lipat. Aku melakukan hal yang biasa kulakukan. Tapi kali ini, aku mengerti tujuannya. Kekuatan mahkota safir selama ini telah menjaga Negeri Rempah dari gejolak gunung berapi.
Saat letusan mereda, kami kembali ke kedaton. Kekuatan mahkota zamrud berhasil menghijaukan kembali hutan rempah yang mati. Ternyata, tugas zamrud tak semudah yang kukira. Sekarang pelayan sedang memanen untuk perdagangan besar esok hari.
Aku tak pernah seyakin ini. Impianku kini ingin menjaga keseimbangan Negeri Rempah bersama mahkota permata lainnya.
— Tamat —
Cerita terbit dalam buku Antologi Impian yang diterbitkan SIP Publishing pada tahun 2024
