Kenangan yang Manis
Oleh: Mutiara Eff
22/1/2026
Di sebuah bagian laut yang menawan, saat matahari menembus permukaan, air terlihat berwarna hijau keemasan. Pemandangan yang tak biasa itu kontras dengan nuansa biru dari perairan di sekitarnya. Tak ada yang tahu bagaimana hamparan alga sargasum tumbuh dan berkembang di sana, yang jelas karpet alga itu telah menjadi saksi bagi tumbuhnya banyak kehidupan. Tak terkecuali bagi dua sahabat dalam cerita ini, penyu tempayan dan ikan mahi-mahi.
Dulu, mereka sama-sama terdampar di karpet alga saat masih berupa telur. Mereka lalu tumbuh bersama menjadi sahabat.
Karpet alga selalu riuh dengan kecipak air dan kilatan warna-warni penghuninya. Namun, tidak hari ini.
Entah karena air yang kelewat tenang atau suasana hatinya yang tidak bagus, Omi si ikan mahi-mahi mendadak merasa sepi. Perasaan ganjil yang baru dirasakannya beberapa hari terakhir. Betapa tidak, dari sejak lahir sampai sekarang, belum pernah sekali pun ia berpisah dengan sahabatnya, Lian si penyu tempayan. Tapi kini... Omi dan keluarganya harus pindah ke bagian laut yang lain. Karpet alga tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan ikan mahi-mahi yang beranjak dewasa. Omi dan keluarganya harus bermigrasi ke tempat yang menyerupai perairan teluk.
Di tengah kegalauannya untuk berpamitan pada sahabat yang disayanginya, Omi malah mendapati Lian hilang. Bagaimana ini? Omi hanya punya satu hari sebelum mereka benar-benar berpisah untuk waktu yang lama.
“Apa kau melihat Lian?” tanya Omi pada sekawanan ubur-ubur.
“Aku melihatnya berenang terburu-buru tadi pagi,” jawab salah satu ubur-ubur. “Seperti akan pergi ke tempat yang jauh,” tambahnya sebelum kembali sibuk mengatur barisan ubur-ubur yang sedang latihan menari.
Masa sih? Apa iya Lian setega itu pada Omi? Pergi tanpa bilang apa-apa?
Omi memutuskan untuk menelusuri tempat-tempat mereka biasa bermain. Siapa tahu Lian sedang duduk menyendiri di salah satu tempat itu. Omi hafal betul kebiasaan sahabatnya yang tidak terlalu suka keramaian.
Tak seperti Omi yang hidup bergerombol dengan kawanan ikan mahi-mahi lainnya, Lian hidup sendirian. Tak banyak penyu tempayan tersisa di perairan itu. Lian beruntung karena ibunya berhasil menyembunyikannya di antara karang-karang di karpet alga saat masih berupa telur. Persis sesaat sebelum ibunya tertangkap jaring-jaring nelayan.
Omi berhenti di taman pasir dan menanyakan hal yang sama pada kepiting tua.
“Aku melihatnya tadi pagi,” jawab kepiting tua. “Menarik perhatianku karena ia berenang menuju pantai. Kuperingatkan untuk berhati-hati, tapi malah tak dijawab,” tambahnya lagi.
Omi lemas. Omi sudah mencarinya ke semua tempat yang biasa mereka datangi. Tapi Lian tak kunjung terlihat. Omi sudah hampir menyerah ketika ia teringat satu tempat yang pernah disebutkan Lian samar-samar. Saat itu, mereka tak berani mendatanginya karena terlalu dekat ke daratan. Bahaya bila ada manusia jahat yang memburu mereka.
Omi memberanikan diri mencapai laguna. Ia kerahkan seluruh tenaganya agar cepat sampai. Ia sebetulnya takut, tapi apa boleh buat. Tak ada lagi kesempatan untuk bertemu sahabatnya.
Saat berhasil mencapai bibir laguna, terdengar sebuah suara yang dikenalinya.
“Omi, apa yang kamu lakukan di sini?” Lian tampak terkejut.
“Kamu ke mana saja?” Omi tak kuasa menahan tangisnya. “Aku besok harus pergi. Keluargaku pindah... untuk waktu yang lama.”
“Aku tahu...” ujar Lian lirih. “Tadinya aku ingin menghilang agar tak melihatmu pergi. Tapi, kurasa itu bukan perpisahan yang baik.”
“Aku ingin mengingatmu dengan kenangan yang manis,” timpal Omi.
“Sama,” ujar Lian. “Untukmu.” Lian menyerahkan koral berbentuk unik yang diambilnya dari laguna. Ternyata itu tujuannya terburu-buru berenang ke laguna. Ia ingin memberikan kado perpisahan untuk sahabatnya.
“Jangan lupakan aku, ya,” ujar Omi terharu.
Mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang berbagai kenangan manis yang telah mereka lewatkan bersama. Saat matahari mulai tenggelam di cakrawala, mereka memutuskan untuk kembali ke lautan.
“Ayo, balapan ke karpet alga!” seru Lian.
“Siapa takut! Yang kalah harus menari bersama para ubur-ubur!” sahut Omi.
Begitulah, kedua sahabat itu pun bergerak menuju takdir kehidupannya masing-masing. Mereka merasa bahagia karena pernah tumbuh bersama di karpet alga yang menawan di tengah laut.
— Tamat —
Cerita terbit dalam buku Antologi Fabel bersama Mulasih Tary yang diterbitkan SIP Publishing pada tahun 2025.
