Brang brung bruuung!
Suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Juna. Ya, itu suara barang-barang yang dikeluarkan Ayah dari karung. Walaupun Juna sedang berada di dalam rumah, suara itu tanpa pelantang pun terdengar jelas. Rumah yang berdiri di pinggir bantaran sungai itu dibangun semi permanen. Bagian atas dinding rumah dari triplek. Sudah pasti suara botol plastik kemasan yang dikeluarkan dari karung besar ukuran 50 kg terdengar.
“Ayah sudah pulang!” Juna berlari keluar.
Juna selalu antusias menyambut kedatangan ayahnya. Selain botol bekas kemasan, botol kaca, ayah juga beberapa kali menemukan buku dari tong sampah. Walaupun bukunya sudah rusak tetap saja Juna senang.
Sepulang sekolah, Juna lebih senang berada di rumah. Juna selalu membantu ayah memilah sampah. Sampah plastik, sampah kertas dan sampah yang termasuk B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti baterai.
“Cara membuat kereta dari botol bekas.” Juna membaca secarik kertas di tumpukan sampah.
Kertas bekas makalah yang dibuang itu, bagi Juna adalah harta karun.
Selalu ada barang baru setiap hari yang dibuat Juna bersama adiknya. Pot bunga, pigura kardus, bunga dari keresek atau mobil-mobilan. Di sekolah, Juna dan adiknya kadang menjual hasil karyanya.
Juna selalu menceritakaan kepada ayah jika ada barang yang terjual. Ayah ikut senang. Juna mendapatkan uang dari hasil keringatnya.
“Terima kasih, sudah menjadi anak ayah yang hebat,” sahut Ayah.
“Justru saya yang harus berterima kasih kepada ayah. Ayah penemu hebat!”
“Penemu?” ayah heran.
“Ya, Ayah kan orang hebat yang menemukan barang-barang di tempat sampah. Tanpa temuanmu aku tidak terlatih membuat mainan.”
Ayah tertawa. Semua ikut tertawa.
Foto:GeminiAI
