Aku si Mercusuar
Oleh: Mutiara Fhatrina
23/12/2025
Hai, namaku Tom. Aku adalah mercusuar yang tinggal di pinggir laut. Coba kamu lihat, aku berdiri tegak di ujung daratan, memandang ke arah lautan luas. Tubuhku berwarna putih terang dan di kepalaku ada sebuah lampu sorot yang bersinar terang di malam hari.
Teman-teman ada yang tahu apa tugasku? Ya, kamu benar! Tugasku adalah mengawasi kapal-kapal yang hendak melintasi lautan. Dengan lampu sorot ini, aku memberi tanda pada kapal yang melintas di malam hari bahwa daratan sudah dekat.
Terkadang aku melewati hari yang sulit, yaitu jika ada badai dan ombak besar datang. Badai dan ombak itu membuat kapal kehilangan arah. Apalagi jika badai disertai hujan dan petir yang sangat kencang. Aku jadi khawatir dengan kapal-kapal yang sedang berlayar, mereka pasti butuh bantuan.
Malam ini tampaknya akan ada badai yang terjadi. Langit sudah menggelap, dan cahaya kilat terlihat. Aku harus bersiap-siap, membantu para kapal yang akan melintas. Benar saja, tak lama kemudian hujan turun deras, dan air laut tampak berombak. Aku mengarahkan lampu sorot ke berbagai arah, terus menoleh kanan...kiri… Siapa tahu ada kapal yang membutuhkan bantuanku.
Dari kejauhan aku melihat sebuah titik terang terombang-ambing di tengah lautan. Hmm, apa itu ya? Sepertinya aku mengenal benda itu. Ah ya, itu seperti temanku, Beni, si kapal feri. Aku ingat, Beni berkata bahwa ia akan bertugas malam ini. Sekarang Beni tampak kesusahan karena melewati badai.
Dengan segenap tenaga, aku mengarahkan lampu sorot ke arah Beni. Aku ingin memberikan tanda bahwa daratan sudah dekat, dan Beni harus berhati-hati agar tak menabrak tebing atau pelabuhan. Beni masih berusaha melewati ombak-ombak yang bergulung. Oh, aku berharap agar Beni baik-baik saja. Aku percaya, Beni adalah kapal feri yang hebat! Dia pasti bisa melewati semua ini dengan baik.
Aku bisa melihat dari kejauhan, sang nahkoda kapal sedang bekerja keras bersama awak kapal lainnya. Nahkoda mengerahkan kemampuannya untuk bisa mengarahkan kapal agar tetap berlayar dengan baik. Awak kapal lainnya pun memastikan agar tak ada kebocoran di kapal akibat terjangan ombak. Sementara itu hujan masih saja turun dengan deras, dan terdengar suara petir menggelegar. Aku bisa bayangkan, betapa ketakutannya seluruh penumpang Beni.
Aku kembali mengarahkan lampu sorot ke arah Beni. Apa itu yang kulihat? Ternyata di belakang Beni ada ombak besar yang sedang mengarah padanya. Wah, aku harus segera memberitahunya. Dengan cepat aku memberikan sinyal pada Beni. Untunglah Beni melihat sinyal yang aku berikan. Secepat mungkin ia berusaha untuk menghindar dari ombak tersebut.
Tak lama kemudian, Beni pun sampai di pelabuhan dengan selamat. Aku tersenyum, lega sekali rasanya. Lain kali, kau harus berhati-hati Beni!
— Tamat —
